Rabu, 02 Mei 2012


PLASENTA PREVIA

Implantasi plasenta normalnya terletak di bagian fundus (bagian puncak atau atas rahim). Bisa agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi menutupi jalan lahir. Patahan jalan lahir ini adalah ostium uteri internum, sedangkan dari luar dari arah vagina disebut ostium uteri eksternum.
Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Plasenta previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan antepartum pada trimester ketiga.
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Mochtar, 1998).
Menurut Browne, klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu:
  1. Plasenta Previa Totalis :
Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir pada tempat implantasi, jelas tidak mungkin bayi dilahirkan in order to vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.
  1. Plasenta Previa Parsialis :
Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada tempat implantasi inipun risiko perdarahan masih besar dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui pervaginam.
  1. Plasenta Previa Marginalis :
Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir bisa dilahirkan pervaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar.
  1. Low Lying Placenta (Plasenta Letak Rendah) :
Lateralis plasenta, tempat implantasi beberapa millimeter atau cm dari tepi jalan lahir risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa dilahirkan pervaginam dengan aman. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm diatas pinggir pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.

KLASIFIKASI
Klasifikasi plasenta previa yang dikenal adalah
1. Plasenta previa totalis : Ostium uteri interna tertutup sempurna oleh plasenta
2. Plasenta previa parsial : Ostium uteri interna tertutup sebagian oleh plasenta
3. Plasenta previa marginal : Tepi plasenta berada pada margin ostium uteri interna
4. Plasenta letak rendah : plasenta berimplantasi pada segmen bawah rahim dimana tepi plasenta
    tidak mencapai ostium uteri interna, tetapi berdekatan dengan ostium tersebut.
Ciri-ciri plasenta previa :
1. Perdarahan tanpa nyeri
2. Perdarahan berulang
3. Warna perdarahan merah segar
4. Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah
5. Timbulnya perlahan-lahan
6. Waktu terjadinya saat hamil
7. His biasanya tidak ada
8. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi
9. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
10. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
11. Presentasi mungkin abnormal

 
Gejala Utama
Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri.
Gejala Klinik
  1. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
  2. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
  3. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
  4. Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin letak janin (letak lintang atau letak sungsang)
  5. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan, sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.
 
Komplikasi Plasenta Previa
Menurut Prof.Dr.Sarwono Prawirohardjo.SpOG,1997,Jakarta.
  1. Prolaps tali pusat.
  2. Prolaps plasenta.
  3. Plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan.
  4. Robekan-robekan jalan lahir karena tindakan.
  5. Perdarahan post portum.
  6. Infeksi karena perdarahan yang banyak.
  7. Bayi premature atau lahir mati.
Penanganan
Menurut Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo.SpOG. 1997. Jakarta.
Penanganan Pasif
  1. Perhatian – Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show (perdarahan inisial), harus dikirim ke rumah sakit tanpa dilakukan manipulasi apapun. Baik rektal apalagi vaginal (Eastmon).
  2. Apabila pada penilaian baik, perdarahan sedikit, janin masih hidup belum inpartu, kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin dibawah 2500 gr, maka kehamilan dapat dipertahankan, istirahat dan pemberian obat-obatan seperti spasmolitika, progestin atau progesterone, observasi dengan teliti.
  3. Sambil mengawasi periksa golongan darah dan menyiapkan donor transfusi darah, bila memungkinkan kehamilan dipertahakan setua mungkin supaya janin terhindar dari prematuritas.
  4. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil tersangka plasenta previa rujuk segera ke rumah sakit dimana tedapat fasilitas operasi dan transfusi darah.
  5. Bila kekurangan darah, berikanlah transfusi darah dan obat-obatan penambah darah.
  1. Persalinan Pervaginam
  2. Persalinan perabdominan, dengan seksio sesarea.

Referensi

Kedaruratan Kebidanan. 1996. Buku Ajar Untuk Program Pendidikan BidanPerdarahan Antepartum Buku II”. Jakarta.
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Sarwono, P. 1997. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
stasiunbidan.blogspot.com
Winda, 2007. Asuhan Kebidanan Kepada Ibu Hamil Dengan Plasenta Letak Rendah. Politeknik Departemen Kesehatan Tanjung Karang Prodi Kebidanan Metro.
Image, chop.edu, nursingcrib.com

Jumat, 13 April 2012

MOLA HIDATIDOSA

PENGERTIAN
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormsl dimana neoplasma jinak dari sel trofoblast. Pada mola hidatidosa kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang
sempurna, melainkan berkembang kenjadi keadaan patologik.
Frekuensi Mola hidatidosa banyak ditemukan di Negara – negara asia, Afrika dan Amerika latin dari pada di Negara – negara barat. Mola hidatidosa merupakan penyakit wanita dalam masa reproduksi antara umur 15 tahun sampai 45 tahun.
Faktor – faktor penyebab mola hidatidosa antara lain :
·          Keadaan sosioekonomi yang tinggi dan parietas tinggi.
·         Keluhan dari penderita seperti gejala – gejala hamil muda yang kadang –
kadang lebih nyata dari kehamilan biasanya.
Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dengan ciri stromavilus korialis langka vaskularisasi dan edematus. Pada kehamilan ini janin biasanya meninggal, akan tetapi vilus-vilus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus; gambaran yang diberikan adalah sebagi segugus buah anggur. Jaringan trofoblas pada vilus kadang-kadang berproliverasi ringan dan kadang-kadang keras, dan mengeluarkan HCG dalam jumlah yang lebih besar dari kehamilan biasa.

Mola hidatidosa dibagi atas :

  1. Mola hidatidosa klasik/komplet adalah kehamilan dimana tidak terdapat janin atau bagian tubuh janin. Hal ini ditandai dengan adanya gambaran proliferasi trofoblas, degenerasi hidropik vili korialis, dan berkurangnnya vaskularisasi kapiler dalam stroma dan disertai pembentukan kista lutein.

  1. Mola hidatidosa parsial/inkomplet adalah terdapat janin atau bagian tubuh janin. Hal ini ditandai dengan adanya jaringan plasenta yang sehat dan fetus. Gambaran edema vili hanya vokal dan proliferasi trofoblas hanya ringan dan terbatas pada lapisan sinsitiotrofoblas. Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya mati pada trimester pertama.


ETIOLOGI

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor – faktor yang dapat
menyebabkan antara lain :
1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi
terlambat dikeluarkan.
2. Imunoselektif dari Tropoblast
3. keadaan sosioekonomi yang rendah
4. paritas tinggi
5. kekurangan protein
6. infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas


TANDA DAN GEJALA
                      
pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam.
·         Amenorrhoe dan tanda – tanda kehamilan

·         Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat. Merupakan gejala utama dari mola hidatidosa, sifat perdarahan bisa intermiten selama berapa minggu sampai beberapa bulan sehingga dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
·         Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan. Kecurigaaan biasanya terjadi pada minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan biasa.
·         Tidak dirasakan tanda – tanda adanya gerakan janin maupun ballotement
·         Hiperemesis,
·         Pasien dapat mengalami mual dan muntah cukup berat.
Pada kasus mola hidatidosa terjadi peningkatan hormon HCG, hal ini menyebabkan pasien sering mengalami mual muntah yang cukup berat.
·         Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke – 24
·         Keluar jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
·         Tirotoksikosis


DIAGNOSA

      1.      Klinis
a. Berdasarkan anamnesis
b. Pemeriksaan fisik
·         Inspeksi : muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan                                                      yang disebut muka mola (mola face)
·         Palpasi : Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba            lembek tidak teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.
·         Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin
·         Pemeriksaan dalam : Memastikan besarnya uterus
Uterus terasa lembek terdapat perdarahan dalam kanalis servikalis
2. Laboratorium
Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi
maka uji biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan
positif setelah titrasi (pengeceran) :
- Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa
3. Radiologik
- Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin
- USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju.
4. Uji Sonde (cara Acosta-sison)
-Tidak rutin dikerjakan. Biasanya dilakukan sebagai tindakan awal
 curretage.
5. Histopatologik
-Dari gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke Lab. Patologi anatomi


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada Mola Hidatidosa atau hamil anggur apabila dokter Anda mencurigai atau melihat adanya gejala dan tanda yang mengarah pada Mola pada diri Anda. Pemeriksaan penunjang tersebut diantaranya adalah:
1. Pemeriksaan serum ß-hCG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan adanya kehamilan dan pada waktu tertentu akan diulang untuk melihat pola peningkatan/lonjakan hormon ß-hCG ini untuk membedakan adanya kehamilan normal atau kehamilan anggur (mola hidatidosa). Pemeriksaan ini juga dikatakan sebagai pemeriksaan ß-hCG serial.
2. USG (Ultrasonografi)
Selanjutnya, keadaan adanya janin atau tidak dipantau dengan menggunakan USG. Dengan menggunakan USG, seorang ahli kandungan dapat memastikan adanya kehamilan dengan melihat adakah janin di dalan kantung gestasi (kantung kehamilan) dan mendeteksi gerakan maupun detak jantung janin. Apabila semuanya tidak kita temukan di dalam pemeriksaan USG, maka kemungkinan kehamilan ini bukanlah kehamilan yang normal.
3. Foto rontgen dada
Pemeriksaan rontgen dada digunakan untuk memantau keadaan sistemik yang terjadi akibat adanya penyakit Mola ini. Harap diperhatikan bahwa rontgen dilakukan apabila benar-benar telah dapat dipastikan bahwa kelainan yang terjadi adalah Mola bukan kehamilan normal.
Ketiga pemeriksaan penunjang ini perlu Anda lakukan, dimana hasil pemeriksaan ini akan dipergunakan dokter Anda, baik untuk menegakkan diagnosis maupun penatalaksanaan penyakit Anda lebih lanjut. Di samping itu, tentu saja, dokter Anda akan mengirim Anda ke laboratorium untuk memeriksa darah Anda agar data penunjang medis menjadi lebih baik sebagai dasar pertimbangan manajemen penyakit Anda.


KOMPLIKASI


- Perdarahan yang hebat sampai syok
- Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia
- Infeksi sekunder
- Perforasi karena tindakan atau keganasan

PENATALAKSANAAN

1. Evakuasi
a. Perbaiki keadaan umum.
b. - Bila mola sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap
- Bila Kanalis servikalis belum terbuka dipasang laminaria dan 12 jam
  kemudian dilakukan kuret.
c. Memberikan obat-obatan Antibiotik, uterotonika dan perbaiki keadaan
   umum penderita.
d. 7-10 hari setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan ke dua untuk
   membersihkan sisa-sisa jaringan.
e. Histeriktomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30
                 tahun, Paritas 4 atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi
   pusat atau lebih.
2. Pengawasan Lanjutan
- Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai kontrasepsi     oral pil.
- Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun :
·         Setiap minggu pada Triwulan pertama
·         Setiap 2 minggu pada Triwulan kedua
·         Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya
·         Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan.
            -Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan :
a. Gejala Klinis : Keadaan umum, perdarahan
b. Pemeriksaan dalam :
- Keadaan Serviks
- Uterus bertambah kecil atau tidak
3. Laboratorium
Reaksi biologis dan imunologis :
- 1x seminggu sampai hasil negatif
- 1x2 minggu selama Triwulan selanjutnya
- 1x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya
- 1x3 bulan selama tahun berikutnya
- Kalau hasil reaksi titer masih (+) maka harus dicurigai adanya keganasan
3. Sitostatika Profilaksis
Metoreksat 3x 5mg selama 5 hari


DAFTAR PUSTAKA

  1.  Abdullah. M.N. dkk. Mola Hidatidosa. PEDOMAN DIAGNOSIS DAN
TERAPI LAB/UPF. KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN.
RSUD DOKTER SOETOMO SURABAYA. 1994

  1. Martaadisoebrata. D, & Sumapraja, S. Penyakit Serta Kelainan Plasenta
& Selaput Janin. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina pustaka
SARWONO PRAWIROHARDJO. Jakarta.2002

  1. Mochtar. R. Penyakit Trofoblas. SINOPSIS OBSTETRI. Jilid I. Edisi2.
Penerbit Buku Kedokteran. ECG. Jakarta. 1998

  1. Sastrawinata, S.R. Mola Hidatidosa. OBSETETRI PATOLOGIK.
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Padjajaran


 
DEFINISI PASIEN KRITIS




A.Definisi Pasien Kritis
Suatu perawatan intensif adalah perawatan yang menggabungkan teknologi tinggi dengan keahlian khusus dalam bidang perawatan dan kedokteran gawat darurat yang dibutuhkan untuk merawat pasien sakit kritis.
Definisi Pasien kritis adalah pasien yang memerlukan pemantauan yang canggih dan terapi yang-intensif.
Definisi pasien krisis adalah perubahan dalm proses yang mengindikasikan hasilnya sembuh atau mati, sedangkan dalam bahasa yunani artinya berubah atau berpisah.

         Definisi pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada satu atau lebih sistem tubuh, tergantung pada penggunaan peralatan monitoring dan terapi.
B.Prioritas Pasien Yang Dikatakan Kritis.

1.    Pasien prioritas 1 :kelompok ini merupakan pasien sakit kritis ,tidak stabil,yang memerlukan perawatan inensif ,dengan bantuan alat – alat ventilasi ,monitoring, dan obat – obatan vasoakif kontinyu dan lain – pain.misalnya pasien bedah kardiotorasik,atau pasien shock septik.pertimbangkan juga derajat hipoksemia, hipotensi, dibawah tekanan darah tertentu.

2.    Pasien prioritas 2 :pasien ini memerluakn pelayanan pemantauan canggih dari icu.jenis pasien ini beresiko sehingga memerlukan terapi segera,karenanya pemantauan intensif menggunakan metoda seperti pulmonary arteri cateteter sangat menolong.misalnya pada pasien penyakit jantung,paru,ginjal, yang telah mengalami pembedahan mayor.
pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya.

3.  Pasien prioritas 3pasien jenis ini sakit kritis dan tidak stabil, dimana status kesehatan sebelumnya,penyakit yang mendasarinya atau penyakit akutnya, baik masing – masing atau kombinasinya,sangat mengurangi kemungkinan sembuh dan atau mendapat manfaat dari terapi icu.Contoh pasien ini adalah pasien dengan keganasan metastasik disertai penyulit infeksi pericardial tamponade ,atau sumbatan jalan napas atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat.pasien–pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut berat.Pasien–pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut
C.Tujuan
1.Menyelamatkan-kehidupan
2.Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan monitoring ketat disertai kemampuan menginterprestasikan setiap data yang didapat dan melakukan tindak-lanjut.
3.Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mempertahankan kehidupan.
4.Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien.
5.Mengurangi angka kematian dan kecacatan pasien kritis dan mempercepat proses      penyembuhan-pasien
E. Karakteristik Situasi Krisis
Secara umum karakter pasien dibedakan mejadi 2 tipe.
1.      Yang cenderung ingin mencari informasi lebih jelas –information seeking- 
2.      yang tidak begitu mementingkan penjelasan  dokter –non information seeking-.

Para pasien yang jenis kedua  hampir jarang ditemukan di era saat ini. Mungkin yang masih ada di pedesaan yang penduduknya masih polos,  kalangan yang latar pendidikannya  kurang, para pasien yang sudah terlampau percaya pada dokternya atau  terlanjur  menganggap therapi yang diberikan dokter  selalu cocok dengan segala macam  gejala penyakit yang dikeluhkan. Mereka tidak terlalu peduli  apa nama penyakitnya, bagaimana bisa terjadi, bagaimana kemungkianan sembuh dan lain-lain. Sudah cukup dengan diberikan obat , menerima nasehat mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Begitu saja, tidak lebih.
Berbeda dengan yang kedua di atas, para pasien golongan pencari informasi akan lebih aktif bertanya kepada dokternya. Mereka belum merasa puas kalau dokter belum bisa atau pun belum sempat menjawab pertanyaan mereka. Didasari juga oleh pengaruh psikis, golongan pasien ini dibedakan lagi antara yang bisa menerima penjelasan dokter secara proporsional dan ada juga yang bertype agak ‘ngeyel’. Mereka yang rada cerewet ini terkadang belum cukup menerima sekali penjelasan dokter, banyak mengajukan pertanyaan yang sama, lebih banyak mengungkapkan keluhan dibanding mendengar informasi dokternya.
Lalu, apakah pasien kritis  akan menyulitkan dokter.Tidak juga .Seorang dokter yang tidak memiliki kompetensi  yang cukup barangkali akan merasa tertekan untuk menjelaskan apa apa yang ditanyakan oleh si pasien.  Berbeda dengan dokter  yang cakap di bidang profesinya dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik tentu akan lebih senang berhadapan dengan pasien jenis ini. Karena penyampaian pesan yang diberikan oleh dokter lebih bisa diterima dan bermakna.
Yang juga menjadi  masalah bagi dokter dalam berkomunikasi dengan pasien adalah apa yang bisa disebut dengan komunikasi berjenjang. Ini terutama terjadi pada pasien yang sedang dirawat di rumah sakit dan mempunyai banyak keluarga. Berjenjang, maksudnya dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya. Setiap anggota keluarga akan menanyakan hal yang hampir sama tentang  si pasien pada kesempatan yang berbeda. Penyebabnya, karena keluarga yang menerima informasi pertama tidak sempat atau tidak mampu menyampaikan penjelasan dokter ke anggota keluarga lainnya. Sehingga hal ini sedikit membebani dokter untuk menjelaskan hal yang sama berulang kali.
Menghadapi hal ini, solusinya adalah dengan memberikan penjelasan kepada keluarga yang berpengaruh dan bisa berkomunikasi dengan keluarga pasien yang lain. Atau bisa juga dengan mengumpulkan semua keluarga terlebih dulu sebelum dokter memberikan penjelasan  tentang kondisi  si pasien.