Jumat, 13 April 2012

MOLA HIDATIDOSA

PENGERTIAN
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormsl dimana neoplasma jinak dari sel trofoblast. Pada mola hidatidosa kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang
sempurna, melainkan berkembang kenjadi keadaan patologik.
Frekuensi Mola hidatidosa banyak ditemukan di Negara – negara asia, Afrika dan Amerika latin dari pada di Negara – negara barat. Mola hidatidosa merupakan penyakit wanita dalam masa reproduksi antara umur 15 tahun sampai 45 tahun.
Faktor – faktor penyebab mola hidatidosa antara lain :
·          Keadaan sosioekonomi yang tinggi dan parietas tinggi.
·         Keluhan dari penderita seperti gejala – gejala hamil muda yang kadang –
kadang lebih nyata dari kehamilan biasanya.
Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dengan ciri stromavilus korialis langka vaskularisasi dan edematus. Pada kehamilan ini janin biasanya meninggal, akan tetapi vilus-vilus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus; gambaran yang diberikan adalah sebagi segugus buah anggur. Jaringan trofoblas pada vilus kadang-kadang berproliverasi ringan dan kadang-kadang keras, dan mengeluarkan HCG dalam jumlah yang lebih besar dari kehamilan biasa.

Mola hidatidosa dibagi atas :

  1. Mola hidatidosa klasik/komplet adalah kehamilan dimana tidak terdapat janin atau bagian tubuh janin. Hal ini ditandai dengan adanya gambaran proliferasi trofoblas, degenerasi hidropik vili korialis, dan berkurangnnya vaskularisasi kapiler dalam stroma dan disertai pembentukan kista lutein.

  1. Mola hidatidosa parsial/inkomplet adalah terdapat janin atau bagian tubuh janin. Hal ini ditandai dengan adanya jaringan plasenta yang sehat dan fetus. Gambaran edema vili hanya vokal dan proliferasi trofoblas hanya ringan dan terbatas pada lapisan sinsitiotrofoblas. Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya mati pada trimester pertama.


ETIOLOGI

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor – faktor yang dapat
menyebabkan antara lain :
1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi
terlambat dikeluarkan.
2. Imunoselektif dari Tropoblast
3. keadaan sosioekonomi yang rendah
4. paritas tinggi
5. kekurangan protein
6. infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas


TANDA DAN GEJALA
                      
pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam.
·         Amenorrhoe dan tanda – tanda kehamilan

·         Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat. Merupakan gejala utama dari mola hidatidosa, sifat perdarahan bisa intermiten selama berapa minggu sampai beberapa bulan sehingga dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
·         Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan. Kecurigaaan biasanya terjadi pada minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan biasa.
·         Tidak dirasakan tanda – tanda adanya gerakan janin maupun ballotement
·         Hiperemesis,
·         Pasien dapat mengalami mual dan muntah cukup berat.
Pada kasus mola hidatidosa terjadi peningkatan hormon HCG, hal ini menyebabkan pasien sering mengalami mual muntah yang cukup berat.
·         Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke – 24
·         Keluar jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
·         Tirotoksikosis


DIAGNOSA

      1.      Klinis
a. Berdasarkan anamnesis
b. Pemeriksaan fisik
·         Inspeksi : muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan                                                      yang disebut muka mola (mola face)
·         Palpasi : Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba            lembek tidak teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.
·         Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin
·         Pemeriksaan dalam : Memastikan besarnya uterus
Uterus terasa lembek terdapat perdarahan dalam kanalis servikalis
2. Laboratorium
Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi
maka uji biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan
positif setelah titrasi (pengeceran) :
- Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa
3. Radiologik
- Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin
- USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju.
4. Uji Sonde (cara Acosta-sison)
-Tidak rutin dikerjakan. Biasanya dilakukan sebagai tindakan awal
 curretage.
5. Histopatologik
-Dari gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke Lab. Patologi anatomi


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada Mola Hidatidosa atau hamil anggur apabila dokter Anda mencurigai atau melihat adanya gejala dan tanda yang mengarah pada Mola pada diri Anda. Pemeriksaan penunjang tersebut diantaranya adalah:
1. Pemeriksaan serum ß-hCG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan adanya kehamilan dan pada waktu tertentu akan diulang untuk melihat pola peningkatan/lonjakan hormon ß-hCG ini untuk membedakan adanya kehamilan normal atau kehamilan anggur (mola hidatidosa). Pemeriksaan ini juga dikatakan sebagai pemeriksaan ß-hCG serial.
2. USG (Ultrasonografi)
Selanjutnya, keadaan adanya janin atau tidak dipantau dengan menggunakan USG. Dengan menggunakan USG, seorang ahli kandungan dapat memastikan adanya kehamilan dengan melihat adakah janin di dalan kantung gestasi (kantung kehamilan) dan mendeteksi gerakan maupun detak jantung janin. Apabila semuanya tidak kita temukan di dalam pemeriksaan USG, maka kemungkinan kehamilan ini bukanlah kehamilan yang normal.
3. Foto rontgen dada
Pemeriksaan rontgen dada digunakan untuk memantau keadaan sistemik yang terjadi akibat adanya penyakit Mola ini. Harap diperhatikan bahwa rontgen dilakukan apabila benar-benar telah dapat dipastikan bahwa kelainan yang terjadi adalah Mola bukan kehamilan normal.
Ketiga pemeriksaan penunjang ini perlu Anda lakukan, dimana hasil pemeriksaan ini akan dipergunakan dokter Anda, baik untuk menegakkan diagnosis maupun penatalaksanaan penyakit Anda lebih lanjut. Di samping itu, tentu saja, dokter Anda akan mengirim Anda ke laboratorium untuk memeriksa darah Anda agar data penunjang medis menjadi lebih baik sebagai dasar pertimbangan manajemen penyakit Anda.


KOMPLIKASI


- Perdarahan yang hebat sampai syok
- Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia
- Infeksi sekunder
- Perforasi karena tindakan atau keganasan

PENATALAKSANAAN

1. Evakuasi
a. Perbaiki keadaan umum.
b. - Bila mola sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap
- Bila Kanalis servikalis belum terbuka dipasang laminaria dan 12 jam
  kemudian dilakukan kuret.
c. Memberikan obat-obatan Antibiotik, uterotonika dan perbaiki keadaan
   umum penderita.
d. 7-10 hari setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan ke dua untuk
   membersihkan sisa-sisa jaringan.
e. Histeriktomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30
                 tahun, Paritas 4 atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi
   pusat atau lebih.
2. Pengawasan Lanjutan
- Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai kontrasepsi     oral pil.
- Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun :
·         Setiap minggu pada Triwulan pertama
·         Setiap 2 minggu pada Triwulan kedua
·         Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya
·         Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan.
            -Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan :
a. Gejala Klinis : Keadaan umum, perdarahan
b. Pemeriksaan dalam :
- Keadaan Serviks
- Uterus bertambah kecil atau tidak
3. Laboratorium
Reaksi biologis dan imunologis :
- 1x seminggu sampai hasil negatif
- 1x2 minggu selama Triwulan selanjutnya
- 1x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya
- 1x3 bulan selama tahun berikutnya
- Kalau hasil reaksi titer masih (+) maka harus dicurigai adanya keganasan
3. Sitostatika Profilaksis
Metoreksat 3x 5mg selama 5 hari


DAFTAR PUSTAKA

  1.  Abdullah. M.N. dkk. Mola Hidatidosa. PEDOMAN DIAGNOSIS DAN
TERAPI LAB/UPF. KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN.
RSUD DOKTER SOETOMO SURABAYA. 1994

  1. Martaadisoebrata. D, & Sumapraja, S. Penyakit Serta Kelainan Plasenta
& Selaput Janin. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina pustaka
SARWONO PRAWIROHARDJO. Jakarta.2002

  1. Mochtar. R. Penyakit Trofoblas. SINOPSIS OBSTETRI. Jilid I. Edisi2.
Penerbit Buku Kedokteran. ECG. Jakarta. 1998

  1. Sastrawinata, S.R. Mola Hidatidosa. OBSETETRI PATOLOGIK.
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Padjajaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar