Jumat, 13 April 2012

MOLA HIDATIDOSA

PENGERTIAN
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormsl dimana neoplasma jinak dari sel trofoblast. Pada mola hidatidosa kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang
sempurna, melainkan berkembang kenjadi keadaan patologik.
Frekuensi Mola hidatidosa banyak ditemukan di Negara – negara asia, Afrika dan Amerika latin dari pada di Negara – negara barat. Mola hidatidosa merupakan penyakit wanita dalam masa reproduksi antara umur 15 tahun sampai 45 tahun.
Faktor – faktor penyebab mola hidatidosa antara lain :
·          Keadaan sosioekonomi yang tinggi dan parietas tinggi.
·         Keluhan dari penderita seperti gejala – gejala hamil muda yang kadang –
kadang lebih nyata dari kehamilan biasanya.
Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dengan ciri stromavilus korialis langka vaskularisasi dan edematus. Pada kehamilan ini janin biasanya meninggal, akan tetapi vilus-vilus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus; gambaran yang diberikan adalah sebagi segugus buah anggur. Jaringan trofoblas pada vilus kadang-kadang berproliverasi ringan dan kadang-kadang keras, dan mengeluarkan HCG dalam jumlah yang lebih besar dari kehamilan biasa.

Mola hidatidosa dibagi atas :

  1. Mola hidatidosa klasik/komplet adalah kehamilan dimana tidak terdapat janin atau bagian tubuh janin. Hal ini ditandai dengan adanya gambaran proliferasi trofoblas, degenerasi hidropik vili korialis, dan berkurangnnya vaskularisasi kapiler dalam stroma dan disertai pembentukan kista lutein.

  1. Mola hidatidosa parsial/inkomplet adalah terdapat janin atau bagian tubuh janin. Hal ini ditandai dengan adanya jaringan plasenta yang sehat dan fetus. Gambaran edema vili hanya vokal dan proliferasi trofoblas hanya ringan dan terbatas pada lapisan sinsitiotrofoblas. Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya mati pada trimester pertama.


ETIOLOGI

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor – faktor yang dapat
menyebabkan antara lain :
1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi
terlambat dikeluarkan.
2. Imunoselektif dari Tropoblast
3. keadaan sosioekonomi yang rendah
4. paritas tinggi
5. kekurangan protein
6. infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas


TANDA DAN GEJALA
                      
pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam.
·         Amenorrhoe dan tanda – tanda kehamilan

·         Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat. Merupakan gejala utama dari mola hidatidosa, sifat perdarahan bisa intermiten selama berapa minggu sampai beberapa bulan sehingga dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
·         Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan. Kecurigaaan biasanya terjadi pada minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan biasa.
·         Tidak dirasakan tanda – tanda adanya gerakan janin maupun ballotement
·         Hiperemesis,
·         Pasien dapat mengalami mual dan muntah cukup berat.
Pada kasus mola hidatidosa terjadi peningkatan hormon HCG, hal ini menyebabkan pasien sering mengalami mual muntah yang cukup berat.
·         Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke – 24
·         Keluar jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
·         Tirotoksikosis


DIAGNOSA

      1.      Klinis
a. Berdasarkan anamnesis
b. Pemeriksaan fisik
·         Inspeksi : muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan                                                      yang disebut muka mola (mola face)
·         Palpasi : Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba            lembek tidak teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.
·         Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin
·         Pemeriksaan dalam : Memastikan besarnya uterus
Uterus terasa lembek terdapat perdarahan dalam kanalis servikalis
2. Laboratorium
Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi
maka uji biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan
positif setelah titrasi (pengeceran) :
- Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa
3. Radiologik
- Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin
- USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju.
4. Uji Sonde (cara Acosta-sison)
-Tidak rutin dikerjakan. Biasanya dilakukan sebagai tindakan awal
 curretage.
5. Histopatologik
-Dari gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke Lab. Patologi anatomi


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada Mola Hidatidosa atau hamil anggur apabila dokter Anda mencurigai atau melihat adanya gejala dan tanda yang mengarah pada Mola pada diri Anda. Pemeriksaan penunjang tersebut diantaranya adalah:
1. Pemeriksaan serum ß-hCG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan adanya kehamilan dan pada waktu tertentu akan diulang untuk melihat pola peningkatan/lonjakan hormon ß-hCG ini untuk membedakan adanya kehamilan normal atau kehamilan anggur (mola hidatidosa). Pemeriksaan ini juga dikatakan sebagai pemeriksaan ß-hCG serial.
2. USG (Ultrasonografi)
Selanjutnya, keadaan adanya janin atau tidak dipantau dengan menggunakan USG. Dengan menggunakan USG, seorang ahli kandungan dapat memastikan adanya kehamilan dengan melihat adakah janin di dalan kantung gestasi (kantung kehamilan) dan mendeteksi gerakan maupun detak jantung janin. Apabila semuanya tidak kita temukan di dalam pemeriksaan USG, maka kemungkinan kehamilan ini bukanlah kehamilan yang normal.
3. Foto rontgen dada
Pemeriksaan rontgen dada digunakan untuk memantau keadaan sistemik yang terjadi akibat adanya penyakit Mola ini. Harap diperhatikan bahwa rontgen dilakukan apabila benar-benar telah dapat dipastikan bahwa kelainan yang terjadi adalah Mola bukan kehamilan normal.
Ketiga pemeriksaan penunjang ini perlu Anda lakukan, dimana hasil pemeriksaan ini akan dipergunakan dokter Anda, baik untuk menegakkan diagnosis maupun penatalaksanaan penyakit Anda lebih lanjut. Di samping itu, tentu saja, dokter Anda akan mengirim Anda ke laboratorium untuk memeriksa darah Anda agar data penunjang medis menjadi lebih baik sebagai dasar pertimbangan manajemen penyakit Anda.


KOMPLIKASI


- Perdarahan yang hebat sampai syok
- Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia
- Infeksi sekunder
- Perforasi karena tindakan atau keganasan

PENATALAKSANAAN

1. Evakuasi
a. Perbaiki keadaan umum.
b. - Bila mola sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap
- Bila Kanalis servikalis belum terbuka dipasang laminaria dan 12 jam
  kemudian dilakukan kuret.
c. Memberikan obat-obatan Antibiotik, uterotonika dan perbaiki keadaan
   umum penderita.
d. 7-10 hari setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan ke dua untuk
   membersihkan sisa-sisa jaringan.
e. Histeriktomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30
                 tahun, Paritas 4 atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi
   pusat atau lebih.
2. Pengawasan Lanjutan
- Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai kontrasepsi     oral pil.
- Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun :
·         Setiap minggu pada Triwulan pertama
·         Setiap 2 minggu pada Triwulan kedua
·         Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya
·         Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan.
            -Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan :
a. Gejala Klinis : Keadaan umum, perdarahan
b. Pemeriksaan dalam :
- Keadaan Serviks
- Uterus bertambah kecil atau tidak
3. Laboratorium
Reaksi biologis dan imunologis :
- 1x seminggu sampai hasil negatif
- 1x2 minggu selama Triwulan selanjutnya
- 1x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya
- 1x3 bulan selama tahun berikutnya
- Kalau hasil reaksi titer masih (+) maka harus dicurigai adanya keganasan
3. Sitostatika Profilaksis
Metoreksat 3x 5mg selama 5 hari


DAFTAR PUSTAKA

  1.  Abdullah. M.N. dkk. Mola Hidatidosa. PEDOMAN DIAGNOSIS DAN
TERAPI LAB/UPF. KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN.
RSUD DOKTER SOETOMO SURABAYA. 1994

  1. Martaadisoebrata. D, & Sumapraja, S. Penyakit Serta Kelainan Plasenta
& Selaput Janin. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina pustaka
SARWONO PRAWIROHARDJO. Jakarta.2002

  1. Mochtar. R. Penyakit Trofoblas. SINOPSIS OBSTETRI. Jilid I. Edisi2.
Penerbit Buku Kedokteran. ECG. Jakarta. 1998

  1. Sastrawinata, S.R. Mola Hidatidosa. OBSETETRI PATOLOGIK.
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Padjajaran


 
DEFINISI PASIEN KRITIS




A.Definisi Pasien Kritis
Suatu perawatan intensif adalah perawatan yang menggabungkan teknologi tinggi dengan keahlian khusus dalam bidang perawatan dan kedokteran gawat darurat yang dibutuhkan untuk merawat pasien sakit kritis.
Definisi Pasien kritis adalah pasien yang memerlukan pemantauan yang canggih dan terapi yang-intensif.
Definisi pasien krisis adalah perubahan dalm proses yang mengindikasikan hasilnya sembuh atau mati, sedangkan dalam bahasa yunani artinya berubah atau berpisah.

         Definisi pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada satu atau lebih sistem tubuh, tergantung pada penggunaan peralatan monitoring dan terapi.
B.Prioritas Pasien Yang Dikatakan Kritis.

1.    Pasien prioritas 1 :kelompok ini merupakan pasien sakit kritis ,tidak stabil,yang memerlukan perawatan inensif ,dengan bantuan alat – alat ventilasi ,monitoring, dan obat – obatan vasoakif kontinyu dan lain – pain.misalnya pasien bedah kardiotorasik,atau pasien shock septik.pertimbangkan juga derajat hipoksemia, hipotensi, dibawah tekanan darah tertentu.

2.    Pasien prioritas 2 :pasien ini memerluakn pelayanan pemantauan canggih dari icu.jenis pasien ini beresiko sehingga memerlukan terapi segera,karenanya pemantauan intensif menggunakan metoda seperti pulmonary arteri cateteter sangat menolong.misalnya pada pasien penyakit jantung,paru,ginjal, yang telah mengalami pembedahan mayor.
pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya.

3.  Pasien prioritas 3pasien jenis ini sakit kritis dan tidak stabil, dimana status kesehatan sebelumnya,penyakit yang mendasarinya atau penyakit akutnya, baik masing – masing atau kombinasinya,sangat mengurangi kemungkinan sembuh dan atau mendapat manfaat dari terapi icu.Contoh pasien ini adalah pasien dengan keganasan metastasik disertai penyulit infeksi pericardial tamponade ,atau sumbatan jalan napas atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat.pasien–pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut berat.Pasien–pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut
C.Tujuan
1.Menyelamatkan-kehidupan
2.Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan monitoring ketat disertai kemampuan menginterprestasikan setiap data yang didapat dan melakukan tindak-lanjut.
3.Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mempertahankan kehidupan.
4.Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien.
5.Mengurangi angka kematian dan kecacatan pasien kritis dan mempercepat proses      penyembuhan-pasien
E. Karakteristik Situasi Krisis
Secara umum karakter pasien dibedakan mejadi 2 tipe.
1.      Yang cenderung ingin mencari informasi lebih jelas –information seeking- 
2.      yang tidak begitu mementingkan penjelasan  dokter –non information seeking-.

Para pasien yang jenis kedua  hampir jarang ditemukan di era saat ini. Mungkin yang masih ada di pedesaan yang penduduknya masih polos,  kalangan yang latar pendidikannya  kurang, para pasien yang sudah terlampau percaya pada dokternya atau  terlanjur  menganggap therapi yang diberikan dokter  selalu cocok dengan segala macam  gejala penyakit yang dikeluhkan. Mereka tidak terlalu peduli  apa nama penyakitnya, bagaimana bisa terjadi, bagaimana kemungkianan sembuh dan lain-lain. Sudah cukup dengan diberikan obat , menerima nasehat mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Begitu saja, tidak lebih.
Berbeda dengan yang kedua di atas, para pasien golongan pencari informasi akan lebih aktif bertanya kepada dokternya. Mereka belum merasa puas kalau dokter belum bisa atau pun belum sempat menjawab pertanyaan mereka. Didasari juga oleh pengaruh psikis, golongan pasien ini dibedakan lagi antara yang bisa menerima penjelasan dokter secara proporsional dan ada juga yang bertype agak ‘ngeyel’. Mereka yang rada cerewet ini terkadang belum cukup menerima sekali penjelasan dokter, banyak mengajukan pertanyaan yang sama, lebih banyak mengungkapkan keluhan dibanding mendengar informasi dokternya.
Lalu, apakah pasien kritis  akan menyulitkan dokter.Tidak juga .Seorang dokter yang tidak memiliki kompetensi  yang cukup barangkali akan merasa tertekan untuk menjelaskan apa apa yang ditanyakan oleh si pasien.  Berbeda dengan dokter  yang cakap di bidang profesinya dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik tentu akan lebih senang berhadapan dengan pasien jenis ini. Karena penyampaian pesan yang diberikan oleh dokter lebih bisa diterima dan bermakna.
Yang juga menjadi  masalah bagi dokter dalam berkomunikasi dengan pasien adalah apa yang bisa disebut dengan komunikasi berjenjang. Ini terutama terjadi pada pasien yang sedang dirawat di rumah sakit dan mempunyai banyak keluarga. Berjenjang, maksudnya dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya. Setiap anggota keluarga akan menanyakan hal yang hampir sama tentang  si pasien pada kesempatan yang berbeda. Penyebabnya, karena keluarga yang menerima informasi pertama tidak sempat atau tidak mampu menyampaikan penjelasan dokter ke anggota keluarga lainnya. Sehingga hal ini sedikit membebani dokter untuk menjelaskan hal yang sama berulang kali.
Menghadapi hal ini, solusinya adalah dengan memberikan penjelasan kepada keluarga yang berpengaruh dan bisa berkomunikasi dengan keluarga pasien yang lain. Atau bisa juga dengan mengumpulkan semua keluarga terlebih dulu sebelum dokter memberikan penjelasan  tentang kondisi  si pasien.













Minggu, 08 April 2012

KONSELING KEBIDANAN

       A.    Pengertian Konseling
Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel”. yang secara etimologis konseling  berarti “to give advice” (Homby: 1958:246)atau memberi saran dan nasihat.Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru/konselor dengan klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahakn dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Menurut Burks dan Stefflre, konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor  terlatih dan seorang klien. Hubungan ini biasanya dilakukan orang perorang.
       Menurut  American Psychological Assosation (APA), konseling merupakan suatu hubungan timbal balik antara konselor (bidan) dengan konseli yang bersifat profesional baik secara individu ataupun kelompok,yang dirancang untuk membantu konseli mencapai perubahan yang  berarti dalam kehidupan.
Menurut Gustad (1953), konseling merupakan suatu proses yang mempunyai orientasi pada belajar,dilakukan dalam lingkungan sosial dari seseorang kepada orang lain (konselor kepada konseli), dengan memberikan bantuan secara profesinal (memilki pengetahuan dalam bidangnya), serta memabntu konseli dengan metode yang disesuainkan kebutuhan masalah yang dihadapi klien,  agar klien dapat memahami dan menggunakan pengertiannya atas tujuan yang ditetapkan bersama dalam proses konseling secara wajar dan dihayati, akhirnya konseli dapat menjadi anggota masyarakat yang lebih produktif dan bahagia
 Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008: 802) konseling berarti pemberian bimbingan oleh orang yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis. Sedangkan dalam situs Wikipedia bahasa Indonesia, konseling adalah “proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (konsele) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien ( client centered  ).

Shertzer dan Stone ( 1980 ) telah membahas berbagai definisi yang terdapat di dalam literatur tentang konseling. Dari hasil bahasannya itu, mereka sampai pada kesimpulan, bahwa Counseling is an interaction process which facilitates meaningful understanding of self and environment and result in the establishment and/or clarification of goals and values of future behavior.
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antar konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya ( Achmad, 2006: 10 ).
B.Tujuan konseling meliputi:
1. Mencapai kesehatan psikologi yang positif.
2. Memecahkan masalah meningkatkan efektifitas pribadi individu.
3. Membantu perubahan pada diri individu yang bersangkutan.
4. Membantu mengambil keputusan secara tepat dan cermat.
5. Adanya perubahan prilaku dari yang tidak menguntungkan menjadi menguntungkan.  
Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, ditujukan agar peserta didik mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut. Sebagai manusia yang normal di dalam setiap diri individu selain memiliki hal-hal yang positif tentu ada yang negatif. Pribadi yang sehat ialah apabila ia mampu menerima dirinya sebagaimana adanya dan mampu mewujudkan hal-hal positif sehubungan dengan penerimaan dirinya itu.Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan ditujukan agar peserta mengenal lingkungannya secara objektif, baik lingkungan sosial dan ekonomi, lingkungan budaya yang sangat sarat dengan nliai-nilai dan norma-norma, maupun lingkungan fisik dan menerima berbagai kondisi lingkungan itu secara positif dan dinamis pula.Sedangkan bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan ditujukan agar peserta didik mampu mempertimbangkan dan mengabil keputusan tentang masa depan dirinya, baik yang menyangkkut bidang pendidikan, bidnag karir, maupun bidnag budaya, keluarga dan masyarakat (Prayito, 1998: 24). Melalui perencanaan masa depan ini individu diharapkan mampu mawujudkan dirinya sendiri dengan bakat, minat, intelegensi dan kemungkinan-kemungkinan yang dimilikinya. Dan perlu pula diingat bahwa diri haruslah sejalan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Apabila kemampuan mewujudkan diri ini benar-benar telah ada pada diri seseorang, maka akan mampu berdiri sendiri sebagai pribadi yang mandiri, bebas dan mantap.
C.Teknik konseling ada 3 yaitu :
1. Pendekatan authoritatian atau directive, pusat dari keberhasilan konseling adalah dari konselor.
2. Pendekatan non-directive atau conseli centred, konseli diberikan kesempatan untuk memimpin proses konseling dan memecahkan masalah sendiri.
3. Pendekatan edetic, konselor menggunakan cara yang baik sesuai dengan masalah konseli.
D. Macam – macam prinsip bimbingan dan konseling 
Dalam pelayanan bimbuingasn dan konseling prisip yang digunakan bersumber dari kajian filosofis hasil dari penelitian dan pengalama praktis tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budayanya, pegertian, tujuan, fungsi, dan proseses, penyelenggaraan bimbingan dan konseling.
Ada beberapa prinsip pelaksanaan bimbingan dan konseling diantaranya :
  1. Bimbingan adalah suatu proses membantu individu agar mereka dapat membantu dirinya sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
  2. Hendaknya bimbingan bertitik tolak (berfokus) pada individu yang dibimbing.
  3. Bimbingan diarahkan pada individu dan tiap individu memiliki karakteristik tersendiri.
  4. Masalah yang dapat diselesaikan oleh tim pembimbing di lingkungan lembaga hendaknya diserahkan kepada ahli atau lembaga yang berwenang menyelesaikannya.
  5. Bimbingan dimulai dengan identifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang akan dibimbing.
  6. Bimbingan harus luwes dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu dan masyarakat.
  7. Program bimbingan di lingkungan lembaga pendidikan tertentu harus sesuai dengan program pendidikan pada lembaga yang bersangkutan.
  8. Hendaknya pelaksanaan program bimbingan dikelola oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan, dapat bekerja sama dan menggunakan sumber-sumber yang relevan yang berada di dalam ataupun di luar lembaga penyelenggara pendidikan.
  9. Hendaknya melaksanakan program bimbingan di evaluasi untuk mengetahui hasil dan pelaksanaan program (Nur Ihsan, 2006 : 9)
Rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya ialah berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, tujuan dan proses penanganan masalah, program pelayanan, penyelenggaraan pelayanan.
Diantara prinsip-prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran pelayanan
Sasaran pelayanan bimbingan dan konseling adalah individu-individu baik secara perorangan aupun kelompok yang menjadi sasaran pelayanan pada umumnya adalah perkembangan dan perikehidupan individu, namun secara lebih nyata dan langsung adalah sikap dan tingkah lakunya yang dipengaruhi oleh aspek-aspek kepribadian dan kondisi sendiri, serta kondisi lingkungannya, sikap dan tingkah laku dalam perkembangan dan kehidupannya itu mendorong dirumuskannya prinsip-prinsip bimbingan dan konseling sebagai berikut :
a. BK melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi.
b. BK berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
c. BK memperhatikan sepenuhnya tahap-tahap dan berbagai apek perkembangan individu.
d. BK memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yang menjadi orientasi pokok pelayanannya.
2. Prinsip-prinsip berkenaan dengan masalah individu
Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu tidaklah selalu positif, namun faktor-faktor negatif pasti ada yang berpengaruh dan dapat menimbulkan hambatan-hambatan terhadap kelangsungan perkembangan dan kehidupan individu yang berupa masalah. Pelayanan BK hanya mampu menangani masalah klien secara terbatas yang berkenaan dengan :
a. BK berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental atau fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
b. Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada invidu yang kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan BK.
  1. Prinsip-prinsip berkenaan dengan program pelayanan
Adapun prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelayanan layanan BK itu adalah sebgaai berikut :
a. BK merupakan bagian integrasi dari proses pendidikan dan pengembangan, oleh karena itu BK harus diselaraskan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
b. Program BK harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga.
c. Program bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah sampai tertinggi.
  1. Prinsip-prinsip berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan
Pelaksanaan pelayanan BK baik yang bersifat insidental maupun terprogram, dimulai dengan pemahaman tentang tujuan layanan, dan tujuan ini akan diwujudkan melalui proses tertentu yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dalam bidangnya, yaitu konselor profesional.
Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan hal tersebut adalah :
a. BK harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalm menghadapi permasalahannya.
b. Dalam proses BK keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri bukan karena kemauan atau desakan dari pihak lain.
c. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
d. Kerja sama antara guru pembimbing, guru-guru lain dan orang tua anak amat menentukan hasil pelayanan bimbingan.
e. Pengembangan program pelayanan BK ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu sendiri (Hanen, 2002).
  1. Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling disekolah dalam lapangan operasional bimbingan dan konseling.
E. Faktor Penunjang Dalam Konseling Antara Lain
1.Ruang konseling: ruangan khusus( pribadi) yang dapat menimbulkan rasa aman dan nyaman kepada calon akseptor sehingga dapat mengemukakan perasaan secara bebas
2.Alat komunikasi,informasi dan edukasi ( KIE ) yang digunakan:penggunaan alat bantu sangat menolong,untuk menjelaskan kontrasepsi tertentu kepada klien misalnya, poster, gambar anatomi tubuh manusia,dll.Sehingga calon akseptor akan mendapatkan gambaran jelas tentang benda asing/alat kontrasepsi yang akan diletakkan dalam tubuhnya.
3. Suasana konseling : konselor /bidan,harus bisa menciptakan suasana aman untuk berbicara.ruang pribadi memang mendukung terciptanya suasana aman dan konseling.
4. Hubungan rapport adalah istilah yang digunakan bila antara konselor dengan klien tercipta hubungan yang dilandasi saling percaya.konselor percaya bahwa klien mampu untuk memutuskan alat kontrasepsi yang akan dipakainnya dan klien percaya bahwa konselor memang menghargainya sebagai pribadi.hubungan rapport yang baik akan memudahkan terciptanya suasana konseling yang baik dan merupakan salah satu unsur yang akan menunjang keberhasilan.
5. Sikap konselor.Konselor harus mempunyai sikap dasar yang menunjang.
6.Penampilan konselor. Mampu menempatkan dan menampilkan diri sesuai dengan keadaan yang dihadapinya,misalnya cara berpakaian harus menampilkan citra bersih dan netral sehingga dapat diterima oleh masyarakat.
F. Faktor penghambat dalam konseling antara lain :

1. Faktor individual
Keterikatan budaya merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari:
a. Faktor fisik atau kepekaan panca indera, usia dan seks
b. Sudut pandang terhadap nilai-nilai
c. Faktor sosial pada sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial
d. Bahasa
2. Faktor yang berkaitan dengan interaksi, antara lain:
a. Tujuan dan harapan terhadap komunikasi
b. Sikap terhadap interaksi
c. Pembawaan diri terhadap orang lain
d. Sejarah hubungan.
3. Faktor situasional
4. Kompetensi dalam melakukan percakapan
Komunikasi dikatakan efektif bila ada sikap perilaku kompeten dari kedua belah pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah:
a. Kegagalan informasi penting
b. Perpindahan topik bicara
c. Komunikasi idak lancar
d. Salah pengertian.
G. Fungsi Konseling Kebidanan

Fungsi konseling adalah :
      a.       Pencegahan : mencegah timbulnya masalah kesehatan.
    b.      Pemahaman : untuk menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh individu atau klien sesuai dengan  kepentingan individu atau kelompok yang mendapatkan pelayanan tersebut.
     c.       Penyesuaian : membantu klien mengalami perubahan biologis, psikologis, kultural dan lingkungan .
     d.      Perbaikan : perbaikan terjadi bila ada penyimpangan perilaku klien
     e.       Pengembangan : meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan derajat kesehatan.
f.       Advokasi : untuk mengasilkan kondisi pembelaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan atau kepentingan pendidikan atau informasi atau perkembangan atau perawatan biologis-psikologis-sosial-spiritual yang dialami klien atau pengguna pelayanan konseling

H.     Proses Konseling
Hubungan antara konselor dan klien adalah inti proses konseling.
Proses konseling meliputi:
1.Pembinaan hubungan baik (rapport) : Pembinaan hubungan baik dimulai sejak awal pertemuan dengan klien dan perlu dijaga seterusnya dengan :
·         Memberi salam pada awal setiap pertemuan.
·         Memperkenalkan diri
·         Menciptakan suasana nyaman dan aman.
·         Memberikan perhatian penuh pada klien (SOLER). S : Face your clients squarely (menghadap klien) & smile/ nod at clients (senyum/ mengganggukkan kepala). O : Open and Non Judgemental Facial Expression (ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai). L : Lean Towards Client (tubuh condong kearah klien). E : Eye Contact in a culturally- Acceptable Manner (kontak mata/ tatap mata sesuia dengan cara yang diterima budaya setempat). R : Relaxed and Friendly Manner (santai dan sikap bersahabat).
·         Bersabar.
·         Tidak memotong pembicaraan klien
2. Pengumpulan dan pemberian informasi.
Pengumpulan dan pemberian informasi merupakan tugas dari konselor. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: mendengar keluhan klien, mengamati komunikasi non verbal klien, bertanya riwayat kesehatan, latar belakang keluarga, masalah, memberikan penjelasan masalah yang dihadapinya.
3. Perencanaan, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
Apabila data telah lengkap, maka bidan membantu klien untuk memecahkan masalah atau membuat perencanaan dalam pemecahan masalahnya.
Tahapan dalam memecahkan masalah adalah:
a. Menjajaki  masalah (menetapkan masalah yang dihadapi klien)
b. Memahami masalah (mempertegas masalah yang sesungguhnya)
c. Membatasi masalah (menetapkan batas-batas masalah)
d. Menjabarkan alternatif pemecahan masalah
e. Mengevaluasi alternatif (menilai setiap alternatif dg analisis SWOT)
f. Memilih alternatif terbaik
g. Menerapkan alternatif dan menindaklanjuti pertemuan.



Daftar Pustaka

Febrina, 2008. Pengertian KIP/K (Komunikasi Inter Personal/ Konseling), dipos 8 Februari : 19.41 WIB.
Tyastuti, dkk., 2008, Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan, Yogyakarta: Fitramaya.
Priyatno,agus.,2009.Komunikasi dan konseling,Jakarta:Salemba medika.
Uripni, Sujianto, Indrawati, 2003. Komunikasi Kebidanan, Jakarta: EGC.
Yulifah, Rita, 2009, Komunikasi dan Koseling dalam Kebidanan, Jakarta: Salemba Medika.
http://www.scribd.com/doc/36258318/Dasar-Dasar-Bimbingan-Dan-Konseling
DYP Sugiharto, Dr. , M.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. (Makalah)
Sayekti Pujosuwarno, Dr, M.Pd. 1993. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Menara Mas Offset